Rabu, 27 April 2011

Kerinduan Ku pada Ka Kahar (cerpen??)

Sore itu, sejujurnya hati ku gusar, entah kenapa dalam fikiranku hanya ada satu kata yang terus berulang, pulang, pulang dan pulang. aku tidak tahu, apa yang sejujurnya terjadi, yang aku tahu, saat terakhir keluarga ku menelpon, mereka dalam keadaan baik-baik saja. yah, mereka baik-baik saja kecuali kakak ku yang memang sedang sakit. Dia baru saja kecelakaan. Aku ingin bertemu ka Kahar.
***
“Mau kemana nis? Buru-buru amat?”, tanya seorang teman, saat kuliah baru saja selesai dan dosenpun baru saja keluar.
“Aku buru-buru, mau pulang”, jawabku singkat
“Tapi ini kan udah sore, ga akan kemalaman? Jarak Bandung-Sukabumi kan lumayan jauh? Kayanya mau hujan juga,” Nia tetap saja bertanya padaku, padahal aku udah males banget jawab pertanyaannya. Dalam fikiranku hanya satu, pulang dan bertemu ka Kahar.
“iya ga apa-apa”. jawabku singkat
Menyadari jawaban-jawaban singkat itu pertanda kurang baiknya mood ku, Nia berhenti bertanya lagi. Dia sepertinya mengerti kalau aku mulai malas menjawab pertanyaannya. Baguslah.
“ya sudah hati-hati”
“oke aku duluan, assalamualaikum”
“waalaikumsalam”
***
Perjalanan Bandung-Sukabumi memang cukup melelahkan. Tapi aku selalu menikmati perjalanan pulang, karena bagiku, bertemu keluarga menambah spirit baru bagi kehidupanku. Aku selalu senang jika akan pulang kampung. Keluarga bagiku tak akan pernah tergantikan, mereka membuat hidupku lebih berarti dan berwarna. Ibuku adalah seorang penjahit. Jahitannya sangat rapi dan bagus, dia pekerja keras meski dia sangat cerewet. Tapi aku sangat menyayanginya. Ayahku, dia adalah seorang guru agama di sebuah SD. Ayahku begitu lembut dan bijaksana, dia sangat memperhatikan keluarganya. Tak pernah mengeluh dan selalu memberi semangat kepada keluarganya. Aku mempunyai kakak laki-laki. Kakakku bernama Kahar Maulana, bagi ku, kahar adalah kakak yang sempurna. Kalau saja Kahar bukan kakakku, mungkin aku ingin sekali meminta ka Kahar meminang ku. Aku memang tergila-gila pada orang seperti ka Kahar. Ah...aku memang adik yang aneh, suatu saat aku akan meminta ka Kahar untuk mencarikan calon suami seperti dia. Ka Kahar cerdas, berwibawa dan tampan. Tapi ada satu alasan yang membuat aku begitu menyayangi ka Kahar. ka Kahar alim, setiap sepertiga malam selalu terdengar isak tangis di ruang shalat, begitu tersedu dan menyayat hati. Setelah itu, lantunan ayat al-Qur’an selalu mengalun di bibirnya. Ka Kahar selalu disibukkan dengan hal-hal baik.
***
Hp ku berdering, ada telepon masuk.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Dengan Nisa adiknya Kahar?”
“ya benar, ini siapa ya? Ada perlu apa?”
“Nisa, sedang dimana sekarang? Saya teman kakakmu, nama saya Vano”
“oh, iya ka Kahar sering nyeritain ka Vano, kenapa ka?”
“mm...Nisa sekarang lagi apa?”
“lagi dikostan aja ka, kenapa?”
“Kahar kecelakaan, sekarang dia di UGD Al-Islam”
“ka kahar kecelakaan?”
Aku lemas, aku serasa ditimpa 1 ton buku. Air mata ini tak sanggup untuk bertahan. Perlahan membasahi pipiku dan aku terisak.
***
“Kahar mengalami pendarahan yang serius di kepalanya, kondisinya kritis, “
Perkataan dokter seminggu yang lalu itu masih terngiang-ngiang diingatanku. Aku ingin segera sampai rumah, aku ingin melihat perkembangan ka Kahar. Malam ini hujan, aroma tanah begitu menyengat, aku tidak suka. Bis melaju dengan kecepatan sedang. Ku lihat sekeliling. Penumpang lain ternyata terlelap dalam tidur. Hanya aku yang tidak bisa memejamkan mata. Fikiranku hanya ingin pulang dan ingin segera sampai. Hatiku mulai gusar.
***
“Ka, kakak kenapa sih ga pacaran??kakak kan ganteng, kuliah lagi, orang kampung sini pada ngelirik-ngelirik kakak tuh, ka Mira yang selalu deketin ibu, nyampein salam ke kakak, ka Dian yang selalu curi-curi pandang saat kakak pulang kampung. Tuh, malah kembang desa kampung sebelah juga naksir kakak. Ato jangan-jangan di kampus kakak banyak cewek nya yaa....ayo ngaku? “ aku nyerocos aja saat kakak ku itu sibuk baca buku. Judul bukunya pun aneh-aneh, bagi aku yang masih SMP kelas 2 ga kesampean baca buku-buku ka Kahar. Di kamarnya tersusun rapi buku-buku yang bagi aku asing banget buat aku. Suatu hari aku pernah iseng baca-baca buku nya. Huh...berat, bacaannya tentang Islam-Islam semua.
“ga ah, udah banyak dosa, masa nambah-nambah dosa dengan pacaran”, jawabnya singkat sambil tersenyum manis ke arahku.
“emang dosa gitu ka kalau pacaran?”
“hmm...menurut Nisa gimana?”
“kalau kata Nisa sih, pacaran itu kan antara cewek sama cowok yang bukan muhrim, kalau kata guru agama Nisa, yang bukan muhrim itu dilarang deket-deketan, apalagi sampe pegang-pegang kaya gitu.”
“nah..itu Nisa tahu”
“hmmm...oh giitu ya Ka, oke siap deh Nisa juga bakalan nurutin kakak, Nisa ga akan pacaran”
“Sip”
***
Perlahan tapi pasti, setiap kejadian yang terjadi bersama ka Kahar muncul disetiap perjalanan pulang ku. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ku kalau aku sangat merindukan ka Kahar. Orang yang akan pertama kali ku peluk saat aku menginjakkan kaki di rumah adalah ka Kahar. Ya ka Kahar. Maafkan aku ibu, bukannya aku tidak rindu pada ibu, tapi entah kenapa aku sangat ingin memeluk ka Kahar. Maafkan aku ayah, bukan aku tidak ingin mencium tanganmu saat aku tiba di rumah, tapi aku sangat ingin melihat senyum ka Kahar. Ka Kahar selalu bilang padaku untuk tidak menyakiti ibu dan ayah. Ka Kahar selalu bilang padaku untuk menghormati ibu dan ayah. Aku belajar setulus hati untuk mencintai ayah dan ibu dari ka Kahar. Anak kebanggaan ayah dan Ibu. Maka izinkan kali ini agar saat pertama kali membuka pintu aku memeluk ka Kahar.
***
“Nis, kuliahnya yang rajin ya”
“iya kakak sayang”
“ka, besok ada undangan alumni LDK di kampus, kakak datang ya”
“hmm..insyaallah ya, kakak juga udah rindu sama teman-teman”
“eh, ka temen-temen kakak udah pada nikah tuh, kakak kapan nikah? Nisa pengen punya kakak ipar”
“Hmm...nanti di waktu yang tepat, kalau kamu udah beres kuliah nanti kakak baru mikirin nikah”
“wah...umur kakak 26 dong kalau Nisa beres kuliah?
“ya ga apa-apa, ibu dan ayah kan udah nyekolahin kakak, sekarang waktunya kakak yang nyekolahin Nisa”
“hmm..tapi sekarang kan Nisa juga udah ngajar privat ka, lumayan lah buat sehari-hari, Nisa juga kan dapet beasiswa”
“iya, tapi kamu harus kursus keahlian yang kamu mau, kakak mau kamu ngejar cita-cita kamu, kamu ga usah mikirin biayanya, karena kakak yang akan berusaha”
“aku sayang kakak”
Aku menatap mata ka Kahar, butir-butir air mata tak sanggup aku bendung. Betapa beruntung mempunyai kakak seperti ka Kahar. Sungguh aku menyayanginya.
***
Kaki ku tergopoh-gopoh, beberapa langkah lagi aku sampai di rumah, suasana malam ini begitu mencekam. Hujan baru saja reda saat aku turun dari bis. Ku lirik jam tangan pemberian ka Kahar. Ternyata jam 10 lebih lima. Aku sengaja tidak memberi tahu ayah dan ibu kalau aku pulang, aku tidak ingin mereka khawatir karena aku pulang malam. Biarkanlah, toh beberapa langkah lagi aku akan sampai ke rumah dengan selamat. Maaf aku tidak memberi tahu kalian.
Akhirnya tiba di depan pintu.
“tok..tok..tok...assalamualaikum”
Dengan tenaga yang tersisa aku mengucapkan salam dan mengetuk pintu.
Tak ada jawaban, aku ucapkan salam untuk yang kedua kalinya
“assalamualaikum”
Terdengar suara langkah kaki dari dalam.
Kret.....
“waalaikumsalam”
Ayah dan ibu ternyata yang membukakan pintu
“Nisa?”
“ Iya bu, yah, maaf tidak memberi tahu kalau mau pulang, ka Kahar mana?”
Jawabku sambil mencium tangan ayah dan ibu. Tetap saja, tangan ku akan refleks mencium kedua tangan orangtuaku, meski sepanjang jalan aku katakan dalam hatiku saat pulang aku akan segera menemui ka Kahar dan memeluknya. Yah, ini lah salah satu pelajaran dari ka Kahar yang diterapkan padaku. Mencium kedua tangan orangtuaku saat datang atau pergi ke suatu tempat.
“Kahar?”
Kata ayahku sambil menatap bola mataku yang mulai sayu karena kelelahan. Aneh, kenapa ayahku menatap aku seperti itu.
“iya, ka Kahar mana? Nisa langsung aja ke kamar ka Kahar ya?”
Aku pun melangkahkan kakiku menuju kamar ka Kahar, aku senang, beberapa langkah lagi aku akan memeluk ka Kahar. Sudah sampai di depan pintu ka Kahar. Tiba-tiba, kaki ku susah untuk di gerakkan. Aku lemas, air mata ku mulai membasahi pipi ku ini. Aku lunglai, aku terjatuh. Aku lupa ka Kahar sudah meninggal.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar